Lia Nurmala

Seorang ibu yang memiliki 2 pasang putra/i, memiliki cita - cita menuliskan perjalanan hidup dan karirnya tentang menggapai cita yang bukan cita - citanya. Bela...

Selengkapnya
Puasa, Apa Iyaaa???

Puasa, Apa Iyaaa???

Kisah Perdana di Bulan Ramadhan

Tahun ini menjadi tahun yang berbeda dibandingkan dengan tahun - tahun sebelumnya. Dimana bertambah lagi personel yang mulai memahami arti puasa tetapi belum melaksanakan puasa. Batas pemahamannya baru tingkat dasar, maklum 2 balita ini masih belum sepenuhnya paham artinya wajib menjalankan puasa di bulan ramadhan.

Memiliki 2 pasang putra putri, memiliki cerita berbeda disetiap anak.

Dimulai dengan 2 ( dua ) balita, Degan dan Decan panggilan kesayangannya. Degan belum genap 5 tahun dan Decan baru berusia 2,5 tahun diakhir bulan ini.

Banyak cerita dari tingkah laku, ucapan atau kepolosan mereka. Mereka belum berpuasa tetapi yang paling ribut dan heboh yaa mereka berdua.

Dimalam pertama tarawih, mereka sudah ribut ingin ke masjid. " Amih, ayo lolat... Ajid yaa mih..." Celetuk Decan. " Aa ikut yaa mih, aa mau sholat juga di masjid... " Degan menimpali. Akhirnya kami berangkat ke masjid, tak lupa dibawa segala macam alat peperangan yang lengkap untuk decan 😁( susu, mainan, cemilan, minum dan diapers ) yang tujuannya agar ia anteng selama tarawih.

Tahun ini menjadi tahun kedua untuk decan, dimana tahun kemarin decan belum bisa diajak tarawih karna masih rewel dan mengganggu yang lain. Menangis dan belum mengerti jika diberi tahu mana yang boleh dan tidak. Di hari pertama, suasana mendukung. Decan ikut dengan aku dan teteh, sedangkan Degan ikut ayah dan Aanya.

Mereka masih malu - malu dan hanya mengganggu yang dikenal saja.

Hari selanjutnya, mereka mulai menguasai Medan. Tidak hanya mengganggu amihnya, Decan mulai berlari - lari kesana kemari dengan jeritan - jeritan khasnya. " Tidaaaak, ampuhhhh ... Atut... Aaaaaa..." Jeritnya , Degan menggoda dan mengejar - ngejar adiknya. Cukup membuat ketar ketir dan kekhusuan terganggu, Tapi itulah dunia anak - anak yang tidak akan pernah kembali.

Degan dengan segala argumennya mengakui berpuasa, " Amih, saya tidak makan apa - apa tapi saya mual. " Dari belakang pengasuh pun berkata, " minum susu terus Bu ", sambil tersenyum. " Tapi saya puasa kan mih, saya tidak makan apa - apa jadi puasa ". Degan bersikukuh mengatakan ia berpuasa. Aku hanya bisa tersenyum dan mengatakan bahwa berpuasa itu tidak makan, tidak minum. Entah itu minum air putih ataupun susu. Degan pun hanya mengangguk dan keesokan harinya masih melakukan hal yang sama walau jika disuruh untuk mencicipi makanan ia selalu berdalih sedang puasa. Lagi - lagi aku pun tersenyum manis, semanis es untuk hidangan berbuka puasa.

Sebagai orang tua , tidak memaksakan untuk berpuasa menunggu saatnya dan berjalan seiring waktu. Pelan - pelan akan beradaptasi dengan bimbingan kami.

Mengenang ketika kedua kakaknya belajar berpuasa, mereka mulai berpuasa tepat diusia 5 ( lima ) tahun. Tidak ada yang memaksakan, atas dasar keinginan sendiri padahal teman - teman seusianya sedikit yang berpuasa. Tapi itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk berpuasa.

Ada kejadian unik yang berbeda diantara mereka, Teteh diawal puasa memprotes tadarus dan sholawat yang dilakukan sebelum adzan berkumandang. " Mih, kenapa sih itu dimasjid pake ngaji - ngaji ama sholawatan lama - lama, biasanya sebentar langsung adzan " rengekannya. Dia kira kita yang mengatur adzan dan bisa dipercepat, ku bisa tersenyum simpul seperti simpul tali Pramuka😁. Tetapi itu hanya berlaku di awal puasa saja, selanjutnya tidak ada lagi kerewelan atau rengekan sampai waktu berbuka. Luar biasanya lagi, ia selalu mengikuti taraweh dengan tertib dan teratur.

Berbeda dengan kakaknya, Aa tidak mengeluhkan suara mengaji dan sholawatan. Ia terbaring lemah lunglai, sampai badannya panas. Sudah ditawarkan untuk berbuka, tetap tidak mau. " Aa mau puasa amih, kalo minum obat dulu namanya gak puasa. Amih gimana sih ! " Celetuknya ketika aku mengatakan bahwa ia bisa puasa lagi setelah makan dan minum obat. Lagi - lagi hanya senyum yang bisa kuukir diwajahku yang manis ini, eyyyaaa🤣. Ketika waktu adzan tiba, ia langsung melahap semua makanan yang telah dipesan sebelumnya, mau inilah mau itulah dan semua kuturuti agar senang. Akhirnya , setelah sholat ia memuntahkan kembali semua makanan yang dikonsumsimya tanpa tersisa. Setelah itu lemas dan tertidur pulas, mau tidak mau sholat taraweh pun terlewat. Tetapi setelah itu ia segar, makan kembali dan keesokan harinya sudah tidak terulang lagi. Untuk taraweh Aa masih terbawa untuk bercanda bersama teman - temannya. Teteh maupun Aa full 1 bulan berpuasa, hanya ada drama di awal puasa saja. Dan selanjutkan mulus dan lancar seperti jalan tol, dengan catatan tol yang jalannya bagus bukan yang berlubang😁.

Berpuasa di bulan ramadhan, diwajibkan untuk semua umat Islam. Sesuai dengan firman Allah Subhana wa taala, surat Al - Baqarah ayat 183 yang berarti , " Hai orang - orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan pada orang - orang sebelum kalian agar kamu bertakwa."

Jadi mengajari dan membimbing anak - anak kita sudah menjadi kewajiban setiap orang tua. Tanpa adanya paksaan dan boleh disertai dengan reward atau penghargaan sebagai pemicunya. Dan perlahan - lahan, mereka akan terbiasa.

Sebagai ibu dari 4 ( empat ) orang anak yang berkarakter berbeda - beda, maka berbeda pula dalam menghadapinya. Tidak bisa disamakan / disamaratakan satu sama lain.

Setiap anak memiliki sifat, pemikiran dan prinsip yang berbeda. Sebagai orang tua bertugas untuk meluruskan dan membimbing sesuai dengan ajaran agama.

Semangat untuk para orang tua semuanya!!! Anak - anak merupakan cerminan diri kita. Ibarat kertas yang masih kosong, tugas orangtua untuk menuliskan bagaimana anak kita kelak nantinya. Semoga keberkahan ramadhan selalu menyertai sehingga kita dapat meraih kemenangan dihari Idhul Fitri yang dinantikan.

Taqobal Minna wa minkum

Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya.

Kita jaga toleransi, saling menghargai satu sama lain...

Tigaraksa, 09/05/2019

10.46

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Keren. Subhanallah.

10 May
Balas

Terima kasih pak

11 May

Menawan... semenawan senyum dan tulisan Sang Ibu bijaksana.

10 May
Balas

Terimakasih

11 May

Mantap bunda

17 May
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali